mengembalikan jati diri bangsa

mengembalikan jati diri bangsa

Mahmud Badaruddin pejuang mengembalikan jati diri bangsa

Posted by adink on Nopember 2nd, 2009

Sultan Mahmud Badaruddin II (l: Palembang, 1767, w: Ternate, 26 November 1862) adalah pemimpin-Kesultanan Palembang Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin . Dalam masa pemerintahannya, ia telah beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda mengembalikan jati diri bangsa, di antara yang disebut Perang Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate . mengembalikan jati diri bangsaNamanya sekarang diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II .
Denominasi mata uang Rupiah 10.000, yang dikeluarkan pada 20 Oktober 2005 menggunakan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai gambar dekoratif mengembalikan jati diri bangsa. Gunakan gambar ini bisa menjadi kasus pelanggaran hak cipta, karena gambar tersebut digunakan tanpa izin dari artis.Konflik dengan Britania Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan daerah ini menjadi incaran Britania dan Belanda. Maaf membuat kontrak komersial, orang Eropa akan lebih dari Palembang. Bercokolnya kolonisasi Eropa awal biasanya ditandai dengan penempatan Loji (kantor dagang) mengembalikan jati diri bangsa. Read the rest of this entry »

Posted in bebas, jati diri bangsa | No Comments »

mengembalikan jati diri bangsa dengan puasa

Posted by adink on Agustus 12th, 2009

Untuk menumbuhkan keinginan mengembalikan jati diri bangsa di diri setiap individu dapat digunakan berbagai cara. Cara itu adalah menumbuhkan rasa toleransi, kesabaran, kedisiplinan dan empati sosial yang tinggi terhadap orang lain. Untuk mencapai itu semua kita dapat menggunakan media puasa untuk menumbuhkannya. Ya! Walaupun sepintas seperti di luar akal, akan tetapi puasa memiliki nilai-nilai tersebut, yang dapat menumbuhkan rasa keinginan dan kepedulian kita untuk mengembalikan jati diri bangsa.

Hakikat puasa adalah menahan dan mengendalikan nafsu dasariah untuk memenuhi kebutuhan pribadi setiap orang. Kebiasaan makan, minum, berhubungan badan, diberhentikan total selama siang hari puasa. Disiplin puasa akan bekerja jika ada ketulusan dan kejujuran pribadi. Ada pengosongan egoisme secara intensif dan kontinyu selama puasa di siang hari, di malam haripun kita dituntut untuk tidak berlebihan dalam melampiaskan nafsu yang tertahan di siang hari. Setelah berbuka kita tidak bisa berbuka puasa dengan makan minum sebanyaknya, karena itu akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pencernaan kita. Bila kita dapat menerpkannya dalam hidup, yaitu menahan ego kita untuk memenuhi kebutuhan pribadi, dan mendahulukan kepentingan bersama dan bangsa, maka bukan tidak mungkin negara ini dapat mengembalikan jati diri bangsa yang mulai terkikis.

Puasa merupakan ibadah yang diajarkan dalam semua agama. Maka puasa dapat diartikan sebagai panggilan bagi setiap pemeluk agama untuk selalu kembali kepada sumber spiritualitasnya yang aguang dan suci, dengan disiplin tinggi untuk menahan mengendalikan egoismenya dengan tujuan ibadah. Bila kita ingin mengembalikan jati diri bangsa ke bentuknya yang ideal, bangsa ini harus belajar untuk menahan dan mengendalikan diri sehingga setiap konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berujung pada kekerasan, tetapi meningkatkan kualitas hidup dan dapt mengembalikan jati diri bangsa. Secara spiritual puasa sebenarnya dapat memberikan inspirasi kepada bangsa ini untuk mengembalikan jati diri bangsa-nya, karena jati diri tidak mungkin didapatkan dengan mengabaikan dimensi spiritualitas bangsa itu sendiri. Read the rest of this entry »

Posted in jati diri bangsa | 4 Comments »

Dr. Moch. Hatta dan mengembalikan jati diri bangsa

Posted by adink on Oktober 20th, 2009

Mengembalikan jati diri bangsa, Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang, baru kemudian pada tahun 1919 beliau pergi ke Batavia untuk studi di HBS. Beliau menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus Universiteit). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun menyusun rencana Mengembalikan jati diri bangsa.Saat masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang.

Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik dalam rangka Mengembalikan jati diri bangsa. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas berangkat ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga sebagai Bendahara.Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air demi Mengembalikan jati diri bangsa. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat Mengembalikan jati diri bangsa,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School serta menyusun kekuatan Mengembalikan jati diri bangsa. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita untuk Mengembalikan jati diri bangsa kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya. Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air untuk Mengembalikan jati diri bangsa. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.

Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia demi Mengembalikan jati diri bangsa. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan demi Mengembalikan jati diri bangsa. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI.

Posted in jati diri bangsa | No Comments »

Proklamator Kemerdekaan RI - Dr. Moch. Hatta-1

Posted by adink on September 18th, 2009

Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Dia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun 1913-1916 untuk melanjutkan studinya Europeesche Lagere School (ELS) di Padang mengembalikan jati diri bangsa. Pada usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (tingkat tinggi) di Batavia (sekarang Jakarta), tapi ibunya ingin tinggal di Padang Hatta pertama, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang, dan kemudian pada 1919 ia pergi ke Batavia untuk belajar di HBS. Ia menyelesaikan studinya dengan hasil yang sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk mempelajari perdagangan / bisnis di Belanda Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce mengembalikan jati diri bangsa kini menjadi Erasmus Universiteit). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun. Sementara masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain, sebagai bendahara organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Pada tanggal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademik Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Past dan Datang” mengembalikan jati diri bangsa. Ketika ia berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond cabang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Satu tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu adalah Abdul Moeis. Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari tingkat sekolah menengah (MULO). Lalu pergi ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga sebagai Bendahara. kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Rusli zainal sang visioner

Posted by adink on Agustus 24th, 2009

berbicara tentan seorang pemimpin jadi ingat seorang visioner dari propinsi riau, siapa lagi kalau bukan rusli zainal sang visioner. Visioner yang satu ini memang melegenda, banyak namanya vbermunculan di internet, sekaligus nama sang visioner ini dijadikan sebagai ajang kontes seo. meskipun banyak kontroversi tentang pemimpin yang satu ini, tapi yang pasti disini saya tidak akan membahas itu, karena sekarang bulan romadhon :). saat ini kontes rusli zainal sang visioner ini telah berlangsung cukup lama, dan tinggal menunggu sisa waktu berakhir sekitar tiga minggu lagi. Meskipun artikel saya masih jauh dai harapan namun, tidak ada salahnya terus berusaha, siapa tahu kali ajah bisa masuk 10 besar. doain yach. trims.

Dan buat temen temen yang lagi ikutan kontes mengembalikan jati diri bangsa. met berjuang yach dan semoga sukses.9d7u3648f5

Posted in rusli zainal | No Comments »

melihat para master seo beraksi

Posted by adink on Juli 25th, 2009

wah beraksinya para master seo bulan0bulan ini begitu menyenangkan, banyak hal yang bisa saya dapatkan disini, meskipun saya bukan master seo tapi paling tidak bisa ikutan ngramein kontes gt deh :)

Posted in seo | 2 Comments »

stop dreaming start action menghadapi serangan virus

Posted by adink on Juni 30th, 2009

Salah satu cara virus untuk dapat menulari PC anda melalui USB / Pen Drive. Melalui virus seperti ‘Ravmon’, ‘New Folder.exe’, ‘Orkut is banned’ dan lain sebagainya, yang tersebar melalui USB drive. Kebanyakan program-program anti virus tidak dapat mendeteksi dan anti virus bahkan tidak dapat menghapus file virus tersebut, anti virus hanya mampu untuk melakukan karantina. Berikut adalah hal-hal yang dapat Anda lakukan jika Anda ingin menghapus virus dari USB drive.

Sulit untuk menghapus virus di Windows Registry Sistem (regedit), Karena tidak mudah menemukan virus di dalam regedit (registri). Jika Anda salah memasukkan atau menghapus tombol, data atau nilai, Windows mungkin tidak dapat berjalan setelah itu (windows anda mengalami kerusakan). Di sini tips belajar seo blog tutorial, hanya menunjukkan cara untuk memeriksa semua program tidak diinginkan yang masuk ke memori komputer ketika Windows pertama kali dioperasikan (Windows start).Untuk mengubah data di dalam registry, Anda perlu menjalankan Microsoft Registry Editor - RegEdit.exe. Anda dapat memakai langkah mudah dengan Klik Tombol Start, kemudian klik dan pilih Run. Ketika jendela Run telah muncul, kemudian ketik ‘RegEdit’ ada kotak yang telah disediakan, dan klik tombol OK. Read the rest of this entry »

Posted in stop dreaming start action | 1 Comment »